Tampilkan postingan dengan label Festival Budaya Mihing Manasa Kontingen Kecamatan Miri Manasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Festival Budaya Mihing Manasa Kontingen Kecamatan Miri Manasa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Mei 2016

Permainan Balugu Khas Dayak

FESTIVAL BUDAYA MIHING MANASA KABUPATEN GUNUNG MAS
KONTINGEN KECAMATAN MIRI MANASA
LOMBA : BALUGU  



Asslamualaikum Wr. Wb, Salom, Om Swasti Astu.............

Lomba Balugu kegiatan ini dilaksanakan  guna melestarikan budaya Adat Dayak pada jaman dahulu karena ketidakadaaan media permainan untuk anak – anaknya makanya leluhur Dayak menciptakan permainan Balugu yang dimana medianya adalah :
1.     Batang Bambu Tua / Puring Betung = yang dibuat menjadi sebuah tongkat atau stik sebagai pelempar lugu tersebut,
2.     Batok Kelapa Tua = indi dibuat menjadi berbentuk love atau segitiga sehingga mudah dilontarkan ke lugu  musuh.
3.     Ukuran lugu tergantung biasanya seukuran 20 cm untuk memudahkan diterbangkan atau diarahkan ke media permainan nya
Balugu Khas Dayak
Menembak Lugu

Balugu Khas Dayak
Memasang Lugu

Permainan ini lumayan membutuhkan keahlian dan harus mempunyai tim yang kompak cara permainannya :
Jarak penembak ke arah yang ditembak misalnya 15 meter dan penembak harus mengarahkan ke lugu tersebut sehingga dapat menjatuhkan ke 3 lugu yang dipasang lawan. Jadi dalam sekali jalan setiap pemain mendapat jatah menembak 2 kali saja, kecuali penembak tersebut dapat menjatuhkan 1 lugu maka dia berhak menembak lagi lugu ke dua dan menjatuhkan lagi dan sampai ketiga apabila ketiga lugu tersebut jatuh semua baru mendapat point.

Sedangkan ketiga penembak lugu dari batas tembak langsung mengenai lugu dan membuat 2 lugu jatuh maka disebut cabang 2 dan mendapat point 50 tapi harus dapat dijatuhkan lagi lugu terakhir, begitu seterusnya tetapi sampai saat ini hanya sebagian orang yang bisa melakukannya dan ada sedikit keberuntungan dan menurut orang tua ada petua / kepercayaan yang bisa mengganggu / mengecoh lawan agar tidak mengenai lugu tersebut. Seperti kepercayaan dayak jadi ada ritual tersendiri dan ada juga ritual untuk menolak hal – hal tersebut sehingga permainan menjadi bersih dan hanya keahlian yang digunakan.

Pemain lugu terdiri dari 2 Tim yang bertanding dan masing – masing tim terdiri dari 3 orang, 1 tim sebagai pemasang lugu satu tim sebagai penembak lugu tersebut. Misalnya dalam permainan diberikan waktu 10 menit berapa lugu yang terkena dan jatuh dari pasangannya di tanah mendapat poin 1 tapi harus tim tersebut menjatuhkan ketiga lugu yang dipasang tersebut dalam sekali jalan misal orang pertama dapat menjatuhkan lugu orang kedua menjatuhkan 1 dan orang ketiga menjatuhkan 1 itulah baru ada Nilainya.

Demikianlah biografri tentang permainan Balugu Khas Dayak lihatlah permainan ini di Kuala Kurun pada minggu ke 2 bulan juni tepatnya pada saat Festival Budaya Mihing Manasa Tahun 2016 semoga penasaran anda terobati. Di Kabupaten Gunung Mas Provinsi Kalimantan Tengah Indonesia.




Sabtu, 07 Mei 2016

Lomba Menyumpit / Manyipet Dayak

FESTIVAL BUDAYA MIHING MANASA KABUPATEN GUNUNG MAS
KONTINGEN KECAMATAN MIRI MANASA
LOMBA : MANYIPET / NYUMPIT PUTRA DAN MANYIPET / NYUMPIT PUTRI



Asslamualaikum Wr. Wb, Syalom, Om Swasti Astu

Lomba Manyipet / Nyumpit ini dilaksanakan  guna melestarikan budaya Adat Dayak pada jaman dahulu dalam hal berburu binatang atau sebagai alat perang yang dimana medianya adalah :
1.     Sumpit / Sipet = Terbuat dari Kayu atau bambu yang mempunyai lubang yang di buat sedemikian rupa sehingga mampu untuk ditiup sumpitnya kearah sasaran.
2.     Isi Sumpit = terbuat dari bambu yang ujungnya diruncingkan sehingga dapat menancap ke sasaran dahulu dioleskan racun yang dapat dengan segera melumpuhkan sasaran.
3.     Untuk saat sekarang sangat sulit ditemukan orang tua yang bisa menyumpit dengan tiupan yang dapat menembus papan karena menurut cerita dan kayu atau papan tersebut karena kekuatan tiupannya bisa tembus oleh anak sumpitnya.

Gambar manyumpit / menyipet : 




Lomba Menyumpit / Manyipet ala Dayak
Kristian anak bapa Tina (ARJ)

Lomba Menyumpit / Manyipet ala Dayak
Gambar Bapa Apri sedang Menyumpit


Permainan ini sebenarnya sangat mudah yaitu mengarahkan anak sumpit ke sasaran yang dibuat sedemikian rupa seperti sasaran tembak dan diberikan nilai / skor sampai dengan 100 untuk sasaran tembak yang dikenai anak sumpit tersebut.  Sedangkan jarak penyumpit dengan sasaran tembak biasanya 20 meter untuk putra dan 15 meter untuk putri.

Peraturan ini berlaku untuk putra dan putri dan arena pertandingan dibuat pembatas untuk keamanan dan memudahkan wasit dalam penilaiannya

Demikian singkat cerita tentang Lomba Manyipet khas dayak yang dilombakan di Festival Budaya Mihing Manasa  pada minggu ke dua Bulan Juni di Kuala Kurun Kabupaten Gunung Mas Provinsi Kalimantan Tengah Indonesia





LOMBA HABAYANG / GASING

FESTIVAL BUDAYA MIHING MANASA KABUPATEN GUNUNG MAS
KONTINGEN KECAMATAN MIRI MANASA
LOMBA : HABAYANG PUTRA DAN HABAYANG PUTRI



Asslamualaikum Wr. Wb, Syalom, Om Swasti Astu

Lomba Habayang / Gasing kegiatan ini dilaksanakan  guna melestarikan budaya Adat Dayak pada jaman dahulu karena ketidakadaaan media permainan untuk anak – anaknya makanya leluhur Dayak menciptakan permainan Bayang / Gasing yang dimana medianya adalah :
1.     Kayu biasanya dibuat dari Kayu Besi / Kayu Ulin / Kayu Hutan lainnya yang dirasa kuat untuk menahan hantaman yang tidak mudah rusak / terbelah oleh musuh tanding biasanya dibuat dengan membentuk bulat / lonjong seperti sebuah Guci / balanai bahasa dayaknya sehingga memiliki Kekuatan Putaran
2.     Tali = Tali yang digunakan pada zaman dahulu dari anyaman Tengang / Kayu Hutan dan saat ini sangat sulit dicari. Karena kekuatannya sangat kuat menahan beban.
3.     Ukuran bayang biasanya seukuran kepalan tangan pengguna bayang untuk memudahkan penggunanya dalam melakukan permainan habayang ini.



Permainan Gasing Dayak / Habayang


Permainan ini sebenarnya sangat mudah yaitu pertama – tama dilakukan tanding Curai atau memutarkan Bayang/ Gasing untuk mencari posisi memasang dan menikam semakin lama putarannya dari Bayang/ Gasing yang lain semakin tinggi jabatannya sehingga menjadi Rajanya. Contohnya pemain ada 2 Orang yang berputar dan berhenti terakhir dialah Rajanya dan yang pertama berhenti putaran Bayang/Gasingnya dia memasang pertama dan rajanya yang menikam.

Apabila kita memasang dan penikam pertama salah menembak/menikam Bayang/Gasing kita ataupun terkena Bayang/Gasing kita tetapi Putaran Bayang/Gasingnya kalah dengan yang memasangnya maka dia turun posisinya dan tidak mendapat nilai dan yang memasang mengganti Posisinya tersebut dan mendapat nilai / point. Dengan catatan bayang pemasang masih hidup/berputar dan menang dari penikam baru dapat dihitung/dinilai poinnya.

Setiap kita / pemain yang menduduki Posisi Raja meraih poin 1 tergantung dari aturan yang dilaksanakan Panitia, contohnya di festival budaya Mihing Manasa setiap kontingen memiliki 3 perwakilan peserta putra dan 3 perwakilan peserta putri.  Contohnya Hasil undian / cabutan nomor urut kec. Miri Manasa melawan kec. Kurun jadi putra melawan putra dan putri melawan putri. Pada saat pertandingan dipilihlah posisi penembak dan penikam yang dilakukan dengan bacurai / memutar bayang terlama.

Setelah itu 3 Putra itu langsung menghadapi 3 putra musuh tandingnya dan menurut aturan ada 7 kali menembak dan 7 Kali memasang bagi tiap peserta tersebut sehingga didapatlah akumulasi hitungan nilai berapa kali dia mendapat kan nilai atau skor.

Contohnya = 1 peserta memasang 7 kali dan penembak / musuhnya menikam gasing/bayang tersebut hanya ada 3 kali mengenai bayang dan menang dalam adu putaran. Maka dia hanya mendapat point 3 saja dan di akumulasikan dengan dua peserta dari tim yang sama sehingga mendapat total poin berapa dan dibandingkan dengan lawan tanding sehingga didapatlah pemenang dari lomba habayang tersebut dan dapat melanjutkan ke pertandingan selanjutnya misal semi final atau finalnya karena biasanya menggunakan sistem Gugur. Dan hanya diambil 3 Besar saja sebagai Juara I, II dan III dari kecamatan yang berkompetisi.

Peraturan ini berlaku untuk putra dan putri dan arena pertandingan dibuat pembatas biasanya lingkaran bulat berdiameter 10 Meter untuk memudahkan wasit dalam penilaiannya tambahan apabila Penikam menembak dan mementalkan bayang/gasing lawan keluar dari lingkaran tersebut maka langsung mendapat nilai / poin walaupun bayang/ gasing lawan masih hidup.

Demikian biografi singkat tentang Lomba Habayang khas dayak yang dilombakan di Festival Budaya Mihing Manasa  pada minggu ke dua Bulan Juni di Kuala Kurun Kabupaten Gunung Mas Provinsi Kalimantan Tengah Indonesia